Bank Dunia Soroti Pengemudi Ojol di RI Mengalami Kesulitan dalam Melunasi Utang, Apa Benar?

Ojol
Ojol ( theubposts.com )

Menurut sebuah studi dari bank dunia, pekerja lepas di sektor digital, termasuk pengemudi ojek online, mengalami kesulitan dalam melunasi hutang dan tidak memiliki tabungan.

Ketua umum asosiasi driver online, taha syafaril, menyatakan bahwa ia belum melakukan penelitian mendalam mengenai utang pengemudi ojek dan taksi online.

Akan tetapi, ia menyadari bahwa pendapatan dari sektor ini telah menurun secara signifikan. Di sisi lain, penghasilan perusahaan penyedia aplikasi terus meningkat karena adanya potongan dari setiap pesanan, ditambah biaya tambahan pada setiap transaksi.

Taha menambahkan, “Ketika aplikasi memberikan paket harga promosi, biaya tersebut biasanya mengurangi pendapatan pengemudi ojek dan taksi online, namun tidak mengurangi pendapatan dari aplikasi itu sendiri.”

Mengulas lebih dalam tentang kondisi para pengemudi, saat ini diperkirakan hampir separuh dari mitra ojek online dan taksi online hanya mampu bertahan hidup.

Pengemudi tersebut menyatakan kebingungan mengapa sangat sulit mendapatkan pesanan. Ia bertanya-tanya apakah ada skema prioritas dalam algoritma yang diimplementasikan oleh penyedia layanan aplikasi.

“Apakah karena memang jumlah pesanan yang sedikit,” tambahnya secara singkat.

Karena itu, mereka, para pengemudi, mengharapkan perjanjian kerjasama kemitraan untuk diresmikan oleh lembaga terkait di pemerintah. Hal ini bertujuan agar kerjasama antara penyedia layanan transportasi dan teknologi dapat diatur secara lebih adil.

Penelitian Bank Dunia

Sebelumnya telah dilaporkan, dalam studi bank dunia yang berjudul “Working without borders: The promise and peril of online gig work”, para peneliti telah menghimpun informasi mengenai para pekerja lepas yang memanfaatkan platform digital di berbagai negara, termasuk indonesia.

Menurut perkiraan bank dunia, sekitar 6-7 persen dari total pekerja informal di indonesia merupakan pekerja lepas yang beroperasi secara online. Dalam kelompok ini, 63 persen mayoritasnya beroperasi di kota-kota besar.

Jenis pekerjaan yang paling umum di antara mereka adalah pengiriman barang, yang mencakup 44%, diikuti oleh pengantaran penumpang seperti ojek online dan taksi online dengan 35%, melakukan tugas-tugas sehari-hari seperti berbelanja untuk orang lain dengan 28%, dan pekerjaan di bidang logistik sebesar 19%.

Hasil penelitian bank dunia juga menemukan bahwa sebagian besar pekerja ojek online dan pekerja online lainnya lebih berpengetahuan tentang investasi dan layanan keuangan dibandingkan pekerja informal lainnya.

Sebanyak 68 persen dari mereka telah memiliki rekening bank dan mereka cenderung dapat menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk ditabung.

Namun, walaupun mereka lebih teredukasi dalam hal keuangan, kebanyakan pekerja ojek online dan pekerja online lainnya masih menghadapi ketidakpastian karena kurangnya perlindungan sosial dan tenaga kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *